Day 3 : Gion District

Gion District

Gion area merupakan kawasan distrik dimana kita bisa melihat Geisha. Dikutip dari wikipedia, Geisha (atau geiko di Kyoto dialek) adalah penghibur profesional yang menghadiri tamu saat makan, jamuan makan dan acara-acara lainnya. Mereka dilatih berbagai ilmu tradisional Jepang, seperti tari dan musik, serta dalam seni komunikasi.

Saya tiba di Gion sekitar pukul 2 siang. Jarak antara Kiyomizudera ke Gion tidaklah jauh sebenarnya, sekitar 1 km. Dengan menggunakan subway bisa ditempuh hanya dengan 2 menit. Saya saat itu memilih untuk jalan kaki karena ingin menikmati perjalanan. Tetapi waktu itu timing saya tidak pas karena cuaca saat terik-teriknya sekitar jam 1, sehingga saya rekomendasikan kepada teman-teman lebih baik memilih naik subway atau bus daripada jalan kaki 😀

Ketika tiba di daerah Gion, saya menemukan kuil yang tidak ada dalam itinerary saya. Karena penasaran saya sempatkan mampir ke kuil tersebut, yang bernama Yasaka Shrine. Saya pun melihat-lihat sebentar di sekitaran kuil tersebut, tetapi tidak sampai masuk ke dalam karena ternyata harus bayar tiket masuk terlebih dulu.

Shirakawa Area

Setelahnya saya melanjutkan menuju tempat yang ingin saya kunjungi pertama kali yaitu Shirakawa Area. Menurut info yang saya baca dari situs pariwisata Jepang, area ini merupakan area dimana kita akan sering melihat Geisha. Untuk menemukan area ini saya sempat nyasar karena banyaknya jalan-jalan kecil disini. Berikut ilustrasi sederhana yang saya dapatkan dari situs japan-guide.com

Ketika saya tiba di jalan kecil menuju Shirakawa area saya cukup beruntung karena saya secara tidak sengaja bertemu dengan geisha yang sedang lewat. Satu hal yang perlu di perhatikan sekali bahwa jika ingin mengambil foto geisha harus dengan ijin/sepengetahuan geisha tersebut karena itu merupakan tata krama di daerah tersebut.

Kesan saya ketika sampai di shirakawa adalah tempatnya sangat sejuk, nyaman, segala sesuatu tertata dengan rapi, sepi dan terlihat masih menjaga budaya tradisional nya. Jarang saya temukan sampah yang berserakan. Saya pun menyempatkan untuk duduk dan istirahat sebentar di samping sungai shirakawa sambil menikmati gemericik air sungai dibawah pohon rindang nan sejuk :). Tempat ini saya rekomendasikan bagi teman-teman yang ingin istirahat sejenak dan menikmati ketenangan.

 

Hanami-Koji Street

Tujuan saya selanjutnya yaitu Hanami-Koji street yang merupakan tempat yang paling populer di Gion District ini. Disini terdapat berbagai macam restauran dan cindera mata khas Kyoto. Sejujurnya saya kurang menikmati saat sampai disini karena terlalu ramai orang yang berlalu lalang dan juga banyak mobil yang melintas. Bahkan untuk jalan saja susah, apalagi saya pun tidak berani mencicipi restauran disini karena tidak tahu kehalalannya. Singkatnya, tempat ini adalah surganya bagi pecinta kuliner yang ingin merasakan sensasi makan di kedai khas rumah tradisional Kyoto. Di ujung jalan ini terdapat venue yang bernama Gion Corner. Disini merupakan tempat dimana kita bisa menonton pertunjukan tradisional jepang seperti tarian, musik, tea ceremony, ikebana, bunraku,etc. Sayangnya karena tiket masuknya relatif mahal, saya pun cuma melihat dari luar saja.

Kenninji Temple

Tiba di ujung jalan Hanami-koji, lagi-lagi sampai di kuil yang tidak ada dalam itinerari saya. Berhubung masih ada waktu sebelum ke destinasi selanjutnya, saya pun akhirnya penasaran dan sempatkan masuk ke area kuil karena gratis juga :D. Menurut wikipedia, Kenninji Temple merupakan kuil budha zen yang termasuk dalam salah satu dari 5 kuil Zen yang paling penting di Kyoto. Untuk masuk ke dalam kuilnya, ada tiket masuk nya lagi, dan seperti biasa karena keterbatasan budget saya pun hanya melihat di sekitaran kuil saja.

Day 3 : Kiyomizudera Temple

Tujuan saya selanjutnya setelah puas mengunjungi Fushimi Inari Temple adalah Kiyomizudera Temple yang merupakan kuil Budha yang terletak di Kyoto bagian timur. Jarak tempuh melalui jalur subway sekitar 7 menit dari stasiun Fushimi Inari ke stasiun Kiyomizu Gojo.

Dari stasiun Gojo saya jalan kaki sekitar 30 menit untuk mencapai gerbang ke kuil Kiyomizudera. Sepanjang perjalanan menyusuri jalanan gang kecil, saya dimanjakan dengan pemandangan yang dipenuhi dengan pohon-pohon hijau yang mulai bersemi dan juga dikagetkan dengan banyaknya batu nisan/tempat persemayaman di sekitar situ.

Sekitar pukul 11:47 saya akhirnya tiba juga di depan gerbang kuil Kiyomizudera dan sudah ramai sekali pengunjung yang berdatangan. Banyak remaja-remaja yang mengenakan kimono atau yukata *susah untuk membedakannya 😀 . Tiket untuk masuk kuil utamanya 300 yen.

Di sekitar kuil utama terdapat kuil lain yang bernama Jishu Shrine. Di kuil tersebut terdapat mitos mengenai “love stones“. Mitosnya bagi siapapun yang bisa melewati 2 love stones tersebut dengan ditutup matanya, maka dia akan menemukan cinta sejatinya. Mirip seperti mitos di alun-alun selatan Jogjakarta :).

Sekitar pukul 12.30 saya memutuskan untuk turun menuju destinasi selanjutnya yaitu district Gion untuk melihat Geisha. Dari kuil utama sampai gerbang keluar ditempuh sekitar 30 menit. Selama perjalanan itulah bisa ngelihat keindahan kuil Kiyomizudera yang sering terlihat di google :D.

Day 3 : Menjelajah Kota Tua Kyoto (Fushimi Inari Shrine)

Hari ke-2 di Jepang, saya lanjutkan dengan menjelajahi kota yang terkenal dengan berbagai macam keindahan dan kemegahan kuil-kuilnya, yaitu Kyoto. Kyoto dahulunya merupakan ibukota negara Jepang pada tahun 794 – 1868 sebelum pindah ke Tokyo. Kyoto terletak di tengah pulau Honshu.

nihonlettou
Letak Kyoto

Kamis 30 April 2015 06.00, pagi itu di kasur hostel saya merasakan badan saya pegal-pegal semua gak karuan efek dari mengelilingi sebagian besar kawasan Osaka dengan jalan kaki. Kalau di total mungkin ada sekitar 10km saya jalan kaki. Untungnya saya bawa minyak urut dari Indonesia untuk antisipasi hal-hal seperti ini :D. Selesai mandi, packing keperluan untuk menjelajahi Kyoto, lalu sarapan  sebentar di dapur umum hostel dan ternyata sudah ramai sekali dengan traveler dari negara lain. Saya pun hanya minum secangkir teh hijau hangat untuk menghemat waktu. Target saya hari 1 di Kyoto adalah Fushimi Inari Shrine, Kiyomizudera Temple, Gion Disctrict, Philosoper Path, Ginkakuji Temple dan Kyoto Tower. Yup list yang cukup panjang untuk di kunjungi dalam waktu satu hari 😀

DSC_2192
Secangkir kopi hijau yang menemani pagi hari di Kyoto

Continue reading Day 3 : Menjelajah Kota Tua Kyoto (Fushimi Inari Shrine)

Piece Hostel Kyoto Review

Selama 2 hari di Kyoto saat solo traveling ke Jepang tahun 2015 lalu, saya menginap di Piece Hostel Kyoto. Piece Hostel Kyoto merupakan salah satu hostel yang menurut saya sangat cocok bagi para backpacker travelers. Akses yang mudah dekat dengan stasiun JR Kyoto serta harga yang terjangkau untuk para backpacker merupakan salah satu keunggulan utamanya.

DSC_2834

Continue reading Piece Hostel Kyoto Review

7 Hari Solo Traveling Keliling Jepang (Osaka, Kyoto, Tokyo)

JEPANG!!! yap..jepang yang merupakan salah satu negara yang sangat maju di Asia bahkan di dunia, yang terkenal dengan kemajuan teknologi, keindahan alam dan keragaman budayanya yang masih terjaga sampai saat ini. Apa yang terlintas di benak ketika mendengar kata jepang? Jika hal itu ditanyakan kepada saya, maka akan saya jawab : Anime, Dorama, Manga/Komik. Yaa, saya adalah orang yang sangat menggemari anime, dorama apalagi manga jepang ( tapi belum Otaku akut XD ). Saya mulai tertarik dengan Jepang setelah beberapa tahun dari jaman SD nonton anime nya di TV seperti Pokemon, Digimon, Tamiya, Doraemon, dan masih banyak lagi. Lalu setelah nya mulai membaca komik seperti Detective Conan, One Piece, Naruto, etc. Dan pada saat kuliah di racunin dorama One Littre of Tears yang sukses membuat saya menangis dan kecanduan dorama. Saat sejak itu saya bertekad bahwa suatu saat nanti harus bisa berkunjung langsung ke Negeri Sakura tersebut. Dan alhamdulilah, di tahun 2015 ini akhirnya keinginan tersebut bisa terwujud dan yang lebih ekstrim nya lagi, kesananya sendirian atau tanpa travel agent alias “backpacker solo traveling” tanpa punya kenalan satupun di jepang sana dan tanpa bisa berbahasa jepang karena walaupun saya suka dengan hal2 berbau jepang, tapi ketika mencoba untuk belajar bahasa jepangnya ternyata sangat sulit XD.

DSC_3347
salah satu contoh Ema ( Wooden Wishing Plaques) yang ditulis oleh salah satu pengunjung Temple di Japan

Continue reading 7 Hari Solo Traveling Keliling Jepang (Osaka, Kyoto, Tokyo)