10 hari Backpacker di Jepang (Tokyo, Kawaguchiko, Nikko)

Ini adalah kali kedua saya traveling ke Jepang. Bulan April 2015 lalu, saya sudah menjejakkan kaki di negeri Sakura tersebut selama 1 minggu. Detail lengkap perjalanan pertama saya bisa di baca di post saya 7 hari backpacker keliling Jepang. Lantas kenapa traveling ke Jepang lagi kalau sudah pernah kesana? Mungkin banyak yang berfikir seperti itu.

Bagi saya sendiri ada 2 hal kenapa saya ke Jepang lagi. Pertama, hal utama yang membedakan perjalanan pertama dan kedua saya ini adalah “teman traveling”-nya hehe. April 2015 lalu saya ingin merasakan solo traveling ke negara asing rasanya seperti apa, sedangkan yang kedua ini ada temannya yaitu istri saya :). Jelas terdepat perbedaan sekali antara traveling sendirian dengan traveling bersama istri. Pokoknya beda sekali. Intinya kalau sendirian bisa seenak hati, bisa egois dan ngontrol waktu, tempat sesuka hati kita, tetapi kalau bersama istri ya harus bisa menyeimbangkan dengan kepentingan istri juga hehe.

Kedua, ini biasanya alasan semua orang kenapa ke Jepang berkali-kali. Jawabannya simple aja. Yaa karena ke Jepang itu gak puas kalau cuma sekali :D. Jepang itu tempatnya bisa dikatakan tidak ada yang jelek haha. seminggu, dua minggu itu belum cukup untuk eksplore semua keindahan Jepang. Bahkan seminggu untuk kota Tokyo saja saya merasa belum cukup untuk mengeksplore semua seluk-beluk Tokyo. Jadi wajar kalau perjalanan pertama ke Jepang biasanya ke kota utama yaitu Tokyo, Kyoto, Osaka. Perjalanan selanjutnya bisa eksplore daerah lain seperti Shirakawago, Hokaido, Hiroshima, Nagasaki, Nikko, dan lainnya.

Untuk traveling kedua ini, saya memilih daerah yang tidak jauh dari sekitaran Tokyo yaitu daerah Kawaguchiko dan Nikko. Alasan saya yaitu untuk menghemat budget karena tidak perlu pesan JR Pass untuk keliling ke banyak kota. Tujuan utama saya yaitu melihat autumn di Jepang dan sudah saya putuskan daerah yang sudah terlihat autumn di pertengahan Oktober ada di Nikko.

Kegon Falls di Nikko

Hunting Tiket Pesawat

Awal 2018 sebenarnya saya tidak ada niatan untuk traveling ke Jepang. Pikirnya waktu itu ingin menabung untuk mengisi rumah *maklum pengantin baru :D. Tapi, ya mungkin sudah takdir yang ingin nyenengin istri jalan-jalan ke luar negeri, ada promo dari maskapai asal negeri jiran “Air Asia”. Waktu itu bulan februari ada promo Air Asia rute baru penerbangan langsung Jakarta-Tokyo. Harga promonya waktu itu benar-benar menggiurkan. Bayangkan tiket 1 kali perjalanan dari Jakarta-Tokyo dikisaran Rp 1,5 juta include tax, bagasi 20 kg!

Setelah konsultasi dengan istri dan ketemu tanggal yang pas mulai ada Autumn di sekitar Tokyo (waktu itu dapatnya hanya di Nikko yang dekat dengan Tokyo dan daun-daunnya sudah mulai memerah di pertengahan Oktober), saya booking untuk 2 orang PP direct Jakarta-Tokyo di tanggal 12-21 Oktober 2018. Tebak berapa harga yang saya dapat? hanya Rp 6 juta sudah dapat tambahan bagasi 20 kg lagi! Waktu itu saya booking di http://www.tiket.com dan kebetulan ada promo juga diskon hingga Rp 500k.

Tips dari saya jika ingin hunting promo tiket pesawat jauh-jauh hari :

  • Subscribe email maskapai-maskapai low carrier yang beroperasi di Indonesia. Banyak info terkait promo-promo yang di broadcast via email.
  • Siapkan dana (tabungan) untuk budget traveling setiap waktu. Mulai sisihkan penghasilan untuk alokasi traveling ini setiap bulan, sehingga jika ada promo bisa langsung dipakai.
  • Subscribe juga ke website pembelian tiket seperti tiket.com, traveloka.com, booking.com, dll. Banyak promo yang lumayan membantu
  • Rencanakan dari awal tahun waktu dan tempat yang ingin di kunjungi di tahun ini. Dengan begitu ketika ada promo, sudah menentukan tanggal yang diinginkan jadi bisa lebih cepat pesannya.

Itinerary 10 Hari di Jepang

Sebenarnya itinerary saya banyak berubah dari perencanaan awal karena 3 bulan sebelum keberangkatan ada pemberitahuan mendadak dari Air Asia yang menyebabkan saya harus merubah itinerary karena harus transit di Bangkok terlebih dulu. Detail kenapa-nya akan saya ceritakan di lain waktu. Untuk sekarang fokus itinerary yang sudah saya jalankan saja.

Secara garis besar itinerary seperti berikut :

  • Hari 1 : Keliling sekitaran Bangkok (Wat Pho, Wat Arun, Khaosan Road)
  • Hari 2 : Sampai Tokyo keliling Asakusa (Nakamise Shopping Street, Sensoji Temple, Halal Ramen Naritaya)
  • Hari 3 : Mengunjungi Kokyo Gaien National Garden, Tokyo Tower, Odaiba Island
  • Hari 4 : Pindah ke Kawaguchiko (Kawaguchiko Music Forest, Kawaguchiko Natural Living Center)
  • Hari 5 : Menelusuri green line sightseeing bus (Saiko iyashi no Sato Nenba Village, Fuji-Q Highland Park)
  • Hari 6 : Pindah ke Nikko (Shinkyo Bridge, Nikko Toshogu Shrine)
  • Hari 7 : Menelusuri Nikko ( Akechidaira Plateau, Kegon Falls, Hangetsuyama Observation Park, Lake Chuzenji)
  • Hari 8 : Menikmati autumn di Yumoto Onsen, melihat miniatur tempat wisata dunia di Tobu World Square
  • Hari 9 : Balik ke Tokyo (cari oleh-oleh di Akihabara)
  • Hari 10 : Persiapan pulang di Narita

Untuk itinerary detail-nya apabila ada yang berminat, bisa request di kolom komentar ya, nanti akan saya kirimkan itinerary lengkapnya 🙂

Total Biaya

Total yang saya keluarkan termasuk tiket pesawat sekitar Rp 30 juta. Wah kok banyak sekali? Yang patut di catat adalah ini biaya untuk 2 orang dengan istri saya, jadi otomatis bebannya 2 kali lipat. Jika 1 orang berarti sekitar Rp 15 juta. Wow murah banget hitungannya untuk 10 hari di Jepang!

Detail-nya seperti berikut (tiket pesawat tidak saya masukkan tapi sesuai detail diatas yaitu Rp 6 juta untuk 2 tiket PP Jakarta-Tokyo):

Ada beberapa hal yang sebenarnya bisa ditekan lagi biayanya, tetapi karena niatnya bulan madu ke-2 bersama istri, jadi gak boleh terlalu ngirit juga hehe.

Jadi begitu kira-kira gambaran 10 hari backpacker saya di Jepang. Untuk detail aktivitas hariannya akan saya lanjutkan di lain waktu. Apabila ada yang tertarik ingin tahu seperti apa 10 hari saya di Jepang, bisa cek dulu video berikut ya, kurang lebih menggambarkan aktivitas saya dan istri selama di Jepang.

ARIGATOU GOZAIMASU!

video ringkasan 10 hari di Jepang

8 Hal yang bisa di lakukan di Derawan

Bulan lalu saya mendapatkan kesempatan untuk menjelajahi Derawan selama 3 hari 2 malam. Kepulauan Derawan terletak di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Derawan terkenal dengan keindahan biota laut dan keberagaman pulaunya yang sangat beraneka ragam yang pasti akan memanjakan mata kita.
Untuk mencapai ke Derawan, jarak yang di tempuh lumayan jauh. Dari bandara Soekarno Hatta, saya mengambil flight jam 5 pagi. Tiba di Bandara Balikpapan sekitar pukul 08.00 lanjut transit dan tiba di Bandara Kalimarau sekitar pukul 10.00.

Selanjutnya harus menempuh jalur darat selama +- 3 jam sampai di pelabuhan Tanjung Batu. Jalanannya sudah bagus di aspal, yang bikin horor karena jalanannya sangat sepi. Terbentang hutan-hutan belantara yang tidak akan kita temui di Jakarta :D.

Saya tiba di Pelabuhan Tanjung Batu sekitar pukul 01.00 lalu di lanjutkan naik speedboat menuju Pulau Derawan. Waktu tempuhnya sekitar 30 menit.

WOW!!!itulah kesan saya pertama tiba di Derawan. Pemandangan yang di suguhkan sungguh bikin diri ingin berlama-lama di Derawan dan tak ingin balik ke Jakarta :D. Berikut 8 Hal yang saya lakukan selama di Derawan :

  1. Bersantai ria di Derawan Dive Resort

    Hal pertama yang bisa di lakukan yaitu santai-santai bermalasan menikmati resortnya. Bisa mulai dari jalan-jalan sekitar rumah apungnya dan menyusuri pantai putih dekat resort itu. Di sekitar resort banyak tempat-tempat yang bagus untuk spot foto-foto dan instagramble 😀

  2. Sunset di Kampung Wisata Bahari

    Sorenya bisa lanjut jalan-jalan ke Kampung Wisata Bahari untuk menikmati langsung matahari yang akan mengucapkan salam perpisahan untuk hari ini *sunset hehe.  Jika jalan kaki waktu tempuh bisa sekitar 20 menit. Di sekitar resort ada yang menyewakan sepeda untuk digunakan keliling pulau dengan tarif 20ribu untuk 1 jam.

  3. Sunrise di Pulau Derawan

    Keesokan harinya bisa menikmati matahari mengucapkan salam perjumpaan *sunrise dari kamar penginapan. Saran saya jika ingin menikmati lebih sunrise di Derawan, bisa eksplore di sekitar pantai putih dekat resort karena pemandangan sunrise nya sangat indah.

  4. Eksplore Pasir Putih Pulau Maratua

    Destinasi wajib ketika di Derawan yaitu berkunjung ke Pulau Maratua. Disini terbentang pasir putih yang sangat luas dan masih bersih. Disini adalah spot utama jika ingin berfoto-foto ria dan bermain pantai karena masih sepi jadi kita bisa menikmati seperti pulau pribadi.

  5. Berenang di Goa Halo Tabung

    Tidak jauh dari Maratua, terdapat goa air jika ingin menguji adrenalin loncat dari atas goa nyebur ke bawah. Namanya Goa Halo Tabung dengan ketinggian sekitar 5 meter. Air di dalam goa akan terlihat seperti menyala dalam kegelapan saking beningnya.

  6. Snorkeling dan Berburu Jellyfish di Pulau Kakaban

    Destinasi selanjutnya yaitu Pulau Kakaban. Di dalam pulaunya terdapat Danau Kakaban yang di huni ribuan ubur-ubur. Ada berbagai macam ubur-ubur mulai dari yang warna orange, ada juga yang transparan. Untuk bisa berfoto dengan ubur-ubur ini di perlukan guide yang akan memandu ubur-ubur ini ke tangan.

    Di Sekitaran pantai Kakaban, ada spot snorkeling yang sangat bagus dengan warna laut yang sangat biru dan biota laut, karang yang belum rusak.

  7. Penangkaran Penyu dan Keindahan Pasir Putih di Pulau Sangalaki

    Bertolak ke Pulau Sangalaki sekitar 30 menit, akan di jumpai tempat penangkaran penyu. Disitu juga terdapat pasir putih yang sangat indah dan bersih untuk melepas penyu.

  8. Berburu Manta

    Dan yang terakhir di penghujung eksplore Pulau Derawan adalah berburu ikan pari Manta. Searah dengan perjalanan balik ke resort, ada satu spot dimana banyak ikan Manta berlalu lalang. Beruntungnya saat itu banyak ikan Manta yang lewat.

     

Keindahan derawan tidak cukup terwakilkan dengan lensa kamera semata. Bagi para traveller, Derawan merupakan salah satu destinasi wajib untuk dikunjungi dan menyaksikan dengan mata sendiri keindahan surga tersembunyi di Kalimantan Timur 🙂

Video :

 

Day 3 : Gion District

Gion District

Gion area merupakan kawasan distrik dimana kita bisa melihat Geisha. Dikutip dari wikipedia, Geisha (atau geiko di Kyoto dialek) adalah penghibur profesional yang menghadiri tamu saat makan, jamuan makan dan acara-acara lainnya. Mereka dilatih berbagai ilmu tradisional Jepang, seperti tari dan musik, serta dalam seni komunikasi.

Saya tiba di Gion sekitar pukul 2 siang. Jarak antara Kiyomizudera ke Gion tidaklah jauh sebenarnya, sekitar 1 km. Dengan menggunakan subway bisa ditempuh hanya dengan 2 menit. Saya saat itu memilih untuk jalan kaki karena ingin menikmati perjalanan. Tetapi waktu itu timing saya tidak pas karena cuaca saat terik-teriknya sekitar jam 1, sehingga saya rekomendasikan kepada teman-teman lebih baik memilih naik subway atau bus daripada jalan kaki 😀

Ketika tiba di daerah Gion, saya menemukan kuil yang tidak ada dalam itinerary saya. Karena penasaran saya sempatkan mampir ke kuil tersebut, yang bernama Yasaka Shrine. Saya pun melihat-lihat sebentar di sekitaran kuil tersebut, tetapi tidak sampai masuk ke dalam karena ternyata harus bayar tiket masuk terlebih dulu.

Shirakawa Area

Setelahnya saya melanjutkan menuju tempat yang ingin saya kunjungi pertama kali yaitu Shirakawa Area. Menurut info yang saya baca dari situs pariwisata Jepang, area ini merupakan area dimana kita akan sering melihat Geisha. Untuk menemukan area ini saya sempat nyasar karena banyaknya jalan-jalan kecil disini. Berikut ilustrasi sederhana yang saya dapatkan dari situs japan-guide.com

Ketika saya tiba di jalan kecil menuju Shirakawa area saya cukup beruntung karena saya secara tidak sengaja bertemu dengan geisha yang sedang lewat. Satu hal yang perlu di perhatikan sekali bahwa jika ingin mengambil foto geisha harus dengan ijin/sepengetahuan geisha tersebut karena itu merupakan tata krama di daerah tersebut.

Kesan saya ketika sampai di shirakawa adalah tempatnya sangat sejuk, nyaman, segala sesuatu tertata dengan rapi, sepi dan terlihat masih menjaga budaya tradisional nya. Jarang saya temukan sampah yang berserakan. Saya pun menyempatkan untuk duduk dan istirahat sebentar di samping sungai shirakawa sambil menikmati gemericik air sungai dibawah pohon rindang nan sejuk :). Tempat ini saya rekomendasikan bagi teman-teman yang ingin istirahat sejenak dan menikmati ketenangan.

 

Hanami-Koji Street

Tujuan saya selanjutnya yaitu Hanami-Koji street yang merupakan tempat yang paling populer di Gion District ini. Disini terdapat berbagai macam restauran dan cindera mata khas Kyoto. Sejujurnya saya kurang menikmati saat sampai disini karena terlalu ramai orang yang berlalu lalang dan juga banyak mobil yang melintas. Bahkan untuk jalan saja susah, apalagi saya pun tidak berani mencicipi restauran disini karena tidak tahu kehalalannya. Singkatnya, tempat ini adalah surganya bagi pecinta kuliner yang ingin merasakan sensasi makan di kedai khas rumah tradisional Kyoto. Di ujung jalan ini terdapat venue yang bernama Gion Corner. Disini merupakan tempat dimana kita bisa menonton pertunjukan tradisional jepang seperti tarian, musik, tea ceremony, ikebana, bunraku,etc. Sayangnya karena tiket masuknya relatif mahal, saya pun cuma melihat dari luar saja.

Kenninji Temple

Tiba di ujung jalan Hanami-koji, lagi-lagi sampai di kuil yang tidak ada dalam itinerari saya. Berhubung masih ada waktu sebelum ke destinasi selanjutnya, saya pun akhirnya penasaran dan sempatkan masuk ke area kuil karena gratis juga :D. Menurut wikipedia, Kenninji Temple merupakan kuil budha zen yang termasuk dalam salah satu dari 5 kuil Zen yang paling penting di Kyoto. Untuk masuk ke dalam kuilnya, ada tiket masuk nya lagi, dan seperti biasa karena keterbatasan budget saya pun hanya melihat di sekitaran kuil saja.

Surga Indonesia Timur – Pulau Kanawa

Tanggal 31 Okt – 2 Nov 2016 kemarin, saya mendapatkan undangan untuk menghadiri JPP (Joint Planning Program) meeting yang diadakan di Labuan Bajo, Flores . Singkat cerita, saya beserta rombongan berangkat pukul 4 pagi wib dengan menggunakan maskapai lion air dan transit di Bali terlebih dulu lalu di lanjutkan dengan maskapai wings air untuk bertolak ke Labuan Bajo. Sekitar pukul 10 wita, kami tiba di bandar udara Komodo. kesan saya pertama kali menginjak tanah flores adalah panas yang sangat terik. Cuaca di flores jauh berbeda dengan di jawa karena sepanjang perjalanan menuju hotel yang terlihat adalah tanah gersang yang menyebabkan warga setempat kesusahan untuk bercocok tanam.

hari pertama kami menginap di hotel Jayakarta yang merupakan salah satu hotel bintang 4 di daerah sana. Seharian penuh agenda kami adalah rapat konsolidasi, sehingga belum ada eksplorasi di hari pertama. Akan tetapi, view dari hotel cukup bisa mengobati rasa penasaran kami dengan keindahan Labuan Bajo.

Pulau Kanawa

Di hari ke 2, kami di ajak menyeberang ke Pulau Kanawa untuk snorkeling. Perjalanan dari satu pulau ke pulau-pulau terpencil di Labuan Bajo perlu menggunakan kapal wisata. Sebagian besar penduduk di sini bermata pencaharian sebagai pemandu wisata atau nelayan. Pertumbuhan ekonomi disini tertolong berkat banyaknya investor-investor dari luar negeri yang memajukan pariwisata disini. Agak miris sebenarnya karena yang lebih perhatian malah bukan dari negeri sendiri :).

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Kapal yang di sewa oleh rombongan kami

Fasilitas yang terdapat di dalam kapal terbilang lengkap. ada sekitar 10 kasur dengan dilengkapi AC, ada meja tengah untuk santai dan makan, kamar mandi ada 2 lengkap dengan toilet, dan juga dapur. Listrik sudah pasti ada untuk recharge smartphone :D.

Perjalanan dari labuan bajo sampai ke pulau kanawa di tempuh dalam waktu sekitar 2,5 jam. Sepanjang perjalanan saya terkesima dengan betapa eloknya keindahan laut di kawasan labuan bajo ini. Sepanjang mata melihat terhampar lautan biru nan indah di selingi pulau-pulau kecil yang menggoda kami untuk narsis berfoto-foto 😀

Sekitar pukul 10.30 kami sampai di Pulau Kanawa. Pulau Kanawa sendiri merupakan private island yang disewa oleh orang Italia. Hanya di beberapa titik pantai yang diperbolehkan untuk umum, sisanya untuk naik ke bukitnya tidak di perbolehkan. Kesan pertama sampai disini adalah pantai putih bersih, airnya jernih hijau dengan banyak terumbu karang, masih sepi dan asik tempatnya untuk escape  dari kebisingan Jakarta 🙂

Puas foto-foto saya lanjutkan snorkeling saat matahari berada di atas kepala. Kebayang betapa panasnya. Tapi itu semua terbayar karena snorkeling di pulau kanawa airnya jernih sekali dan ikannya banyak bervariasi terlihat jelas. Ikannya juga tidak takut dengan manusia jadi seperti  bisa untuk memegang ikannya. Sayang sekali saya lupa tidak membaca yi-cam saya sehingga tidak ada foto sewaktu snorkeling.

Puas snorkeling, sekitar jam 10.30 kami melanjutkan ke destinasi selanjutnya yaitu pulau Komodo untuk melihat sang dinosaurus purba yang masih bertahan sampai sekarang, si “Komo”-do 😀

Day 3 : Kiyomizudera Temple

Tujuan saya selanjutnya setelah puas mengunjungi Fushimi Inari Temple adalah Kiyomizudera Temple yang merupakan kuil Budha yang terletak di Kyoto bagian timur. Jarak tempuh melalui jalur subway sekitar 7 menit dari stasiun Fushimi Inari ke stasiun Kiyomizu Gojo.

Dari stasiun Gojo saya jalan kaki sekitar 30 menit untuk mencapai gerbang ke kuil Kiyomizudera. Sepanjang perjalanan menyusuri jalanan gang kecil, saya dimanjakan dengan pemandangan yang dipenuhi dengan pohon-pohon hijau yang mulai bersemi dan juga dikagetkan dengan banyaknya batu nisan/tempat persemayaman di sekitar situ.

Sekitar pukul 11:47 saya akhirnya tiba juga di depan gerbang kuil Kiyomizudera dan sudah ramai sekali pengunjung yang berdatangan. Banyak remaja-remaja yang mengenakan kimono atau yukata *susah untuk membedakannya 😀 . Tiket untuk masuk kuil utamanya 300 yen.

Di sekitar kuil utama terdapat kuil lain yang bernama Jishu Shrine. Di kuil tersebut terdapat mitos mengenai “love stones“. Mitosnya bagi siapapun yang bisa melewati 2 love stones tersebut dengan ditutup matanya, maka dia akan menemukan cinta sejatinya. Mirip seperti mitos di alun-alun selatan Jogjakarta :).

Sekitar pukul 12.30 saya memutuskan untuk turun menuju destinasi selanjutnya yaitu district Gion untuk melihat Geisha. Dari kuil utama sampai gerbang keluar ditempuh sekitar 30 menit. Selama perjalanan itulah bisa ngelihat keindahan kuil Kiyomizudera yang sering terlihat di google :D.

Day 3 : Menjelajah Kota Tua Kyoto (Fushimi Inari Shrine)

Hari ke-2 di Jepang, saya lanjutkan dengan menjelajahi kota yang terkenal dengan berbagai macam keindahan dan kemegahan kuil-kuilnya, yaitu Kyoto. Kyoto dahulunya merupakan ibukota negara Jepang pada tahun 794 – 1868 sebelum pindah ke Tokyo. Kyoto terletak di tengah pulau Honshu.

nihonlettou
Letak Kyoto

Kamis 30 April 2015 06.00, pagi itu di kasur hostel saya merasakan badan saya pegal-pegal semua gak karuan efek dari mengelilingi sebagian besar kawasan Osaka dengan jalan kaki. Kalau di total mungkin ada sekitar 10km saya jalan kaki. Untungnya saya bawa minyak urut dari Indonesia untuk antisipasi hal-hal seperti ini :D. Selesai mandi, packing keperluan untuk menjelajahi Kyoto, lalu sarapan  sebentar di dapur umum hostel dan ternyata sudah ramai sekali dengan traveler dari negara lain. Saya pun hanya minum secangkir teh hijau hangat untuk menghemat waktu. Target saya hari 1 di Kyoto adalah Fushimi Inari Shrine, Kiyomizudera Temple, Gion Disctrict, Philosoper Path, Ginkakuji Temple dan Kyoto Tower. Yup list yang cukup panjang untuk di kunjungi dalam waktu satu hari 😀

DSC_2192
Secangkir kopi hijau yang menemani pagi hari di Kyoto

Continue reading Day 3 : Menjelajah Kota Tua Kyoto (Fushimi Inari Shrine)

Day 2 : Menjelajahi Osaka (Shitennoji Temple, Osaka Castle, Umeda Sky Building)

Shitennoji Temple

Shitennoji Temple merupakan kuil Budha pertama dan tertua di Jepang. Dari Horikoshi Shrine bisa di tempuh jalan kaki +- 5 menit. Biaya masuk nya adalah 300 yen. Saya menghabiskan waktu sekitar 1 jam disini karena badan sudah terasa pegal-pegal sekali terlebih masih membawa tas carier lengkap saat dari bandara tadi. Kesan saya ketika memasuki temple ini bahwa hawa religiusnya kuat sekali disini. Tidak salah memang shitennoji temple kuil budha pertama di Jepang.

Continue reading Day 2 : Menjelajahi Osaka (Shitennoji Temple, Osaka Castle, Umeda Sky Building)

Day 2 : Menjelajahi Osaka (Nipponbashi, Tennoji Zoo)

Nipponbashi Den Den Town

Sekitar jam 12 saya melanjutkan ke destinasi lainnya yaitu Nipponbashi Den Den Town yang merupakan surga-nya Otaku di Osaka. Nipponbashi Den Den Town seperti kloning dari Akihabara di Tokyo. Sayangnya pas saya sampai disana masih sepi dan tidak ada cosplayer yang saya impi2kan :(. Dari Dotonbori ke Nipponbashi bisa di tempuh dengan jalan kaki sekitar 10 menit karena jaraknya yang relatif dekat +- 1 km. Saya pun hanya numpang lewat saja saat kesini karena sepi.

Continue reading Day 2 : Menjelajahi Osaka (Nipponbashi, Tennoji Zoo)

Day 2 : Menjelajahi Osaka (Namba Park, Shinshaibashi, Dotonbori)

Osaka merupakan kota yang terletak di wilayah Kansai Jepang dan merupakan ibu kota Prefektur Osaka dengan jumlah penduduk terbesar nomor tiga di Jepang setelah Tokyo dan Yokohama. Osaka terletak di pulau Honshu, di mulut Sungai Yodo di Teluk Osaka. (Wikipedia)

Processed with VSCO with kk1 preset
Osaka Castle

Saya tiba di bandara Kansai International Airport pukul 8 am. Dalam hati saya merasa senang akhirnya petualangan saya berkeliling Jepang dimulai saat itu juga, tetapi muncul juga rasa takut dan bingung karena tidak ada yang saya kenal sama sekali. Setelah diam sebentar mengamati suasana sekitar, saya membaca ada petunjuk ke bagian imigrasi yaitu harus naik monorel di track 2. Kurang dari 5 menit saya sudah sampai di bagian imigrasi dan ternyata antriannya sudah panjang sekali. Ternyata akhir april banyak juga wisman yang berkunjung ke Jepang terlebih yang dari Indonesia banyak sekali walaupun sakura blossom nya sudah habis.

Continue reading Day 2 : Menjelajahi Osaka (Namba Park, Shinshaibashi, Dotonbori)

Piece Hostel Kyoto Review

Selama 2 hari di Kyoto saat solo traveling ke Jepang tahun 2015 lalu, saya menginap di Piece Hostel Kyoto. Piece Hostel Kyoto merupakan salah satu hostel yang menurut saya sangat cocok bagi para backpacker travelers. Akses yang mudah dekat dengan stasiun JR Kyoto serta harga yang terjangkau untuk para backpacker merupakan salah satu keunggulan utamanya.

DSC_2834

Continue reading Piece Hostel Kyoto Review